Kembali ke Rumah

Saat ini, “kembali ke rumah” bukanlah tentang mudik atau pulang kampung.
Saat ini, “kembali ke rumah” bukanlah tentang mudik atau pulang kampung. (Gambar. ESN)

Stay at home! Di rumah aja! adalah anjuran yang saat ini paling dikenal oleh penduduk bumi. Walau ada beberapa gelintir manusia di negara tertentu -sebut saja US- yang melakukan gerakan protes, bahkan sampai membawa senjata untuk melawan anjuran/perintah untuk tetap berada di rumah. Kalau nonton videonya malah jadi geli dan kasihan, sebab sampai saat ini tidak ada vaksin untuk kebodohan.

Ada beberapa komentar menarik ketika saat ini banyak hal dilakukan di rumah saja. Bekerja dari rumah, anak-anak belajar di rumah, dll. Tentu saja ini terlepas dari kawan-kawan yang memang harus tetap beraktifitas di luar rumah, terutama untuk kewajiban kehidupan. Sehingga kali ini fokusnya pada siapapun yang melakukan banyak hal dari rumah.

Seorang kawan berkomentar, betapa membosankannya berada di rumah terus-terusan. Stress katanya. Maklum, terbiasa keluar rumah dari pagi, pulang sore. Malam keluar lagi, hingga jelang pagi. Hampir selalu begitu setiap hari. Mayoritas waktunya ada di luar rumah.

Adalagi yang berkomentar ternyata susah juga mendampingi anak-anaknya belajar. Bahkan ada juga yang bercerita sampai ‘ribut’ sama si anak. Komentar yang mengundang -minimal- senyum dari para pengajar. Ada guru yang merespon, ibu baru satu anak ibu saja, sementara kami setiap hari ada berapa anak yang harus dihadapi. Jlebbb!

Berita dari luar negeri, angka perceraian meningkat pasca lockdown. Demikian pula di Amerika, gugatan perceraian juga meningkat semasa karantina. Ternyata konon berada di rumah membuat tekanan yang mereka hadapi juga meningkat. Karena berbagai faktor.

Itu hanya beberapa kejadian yang sempat terekam diingatan. Reaksi pertama yang kemudian muncul adalah sebuah pertanyaan singkat, kok bisa?

Apapun kejadiannya, sudah pasti itu dilatarbelakangi oleh berbagai hal yang tidak semua orang alami dalam hidupnya sehari-hari. Katakannya itu refleksi atas kebiasaan setiap individu. Namun, memperhatikan bagaimana kehidupan di atas bumi ini berjalan, kali ini lebih memilih untuk tidak sependapat dengan istilah stay at home, atau di rumah saja. Ini adalah waktu yang tepat untuk kembali ke rumah.

Karena rumah haruslah menjadi awal dan tempat kembali untuk semua hal. Maka untuk saat ini, “kembali ke rumah” bukanlah tentang mudik atau pulang kampung. Melainkan tentang nilai-nilai yang sebagian sudah dilupakan.

2 tanggapan pada “Kembali ke Rumah”

Ada Tanggapan?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas