Dipenjara Karena Langgar Isoman

Ilustrasi Penjara (Gbr. st_lux | Getty Images)
Ilustrasi Penjara (Gbr. st_lux | Getty Images)

Seorang mahasiswi dihukum penjara selama 12 pekan karena berpotensi memaparkan COVID-19 kepada orang lain. Mahasiswi tersebut sebenarnya telah kehilangan indra penciuman dan perasa, kemudian dinyatakan positif COVID-19. Sebelumnya, ia telah diperintahkan untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumahnya.

Mahasiswi tersebut, Esther Tan Ling Ying adalah warga negara Singapura. Kejadian itu juga di sana. Sepulangnya ia dari London. Pada saat ia harusnya menjalani isoman, ia malah pergi ke food court dan klinik. Karena di food court memang untuk makan, maka mau tak mau melepaskan masker. Lebih parah lagi, Esther Tan berbohong kepada dokter yang merawatnya tentang riwayat perjalanannya.

Perilaku Esther Tan tersebut membuat Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebutnya sebagai tindakan yang serius dan mengerikan. Sehingga atas kemungkinan menularkan kepada orang lain, JPU menuntutnya dihukum selama enam bulan penjara. Vonis hakim kemudian adalah selama 12 pekan, atau 3 bulan.

Tapi, sekali lagi. Itu di Singapura. Sementara di sini?

Beberapa waktu lalu, seorang kawan datang ke rumah. Tepatnya malam hari. Dengan tampang dan nada kesal ia bercerita tentang salah seorang rekan kerjanya, yang sebenarnya juga harus menjalani isoman karena dinyatakan positif COVID-19. Tapi dengan alasan bosan di rumah, sang rekan kerja tersebut malah pergi ke luar rumah. Shalat berjamaah di masjid.

Tentu tidak ada masalah dengan shalat berjamaahnya. Hanya saja kondisi yang bersangkutan itu sedang waduh sekali. Entah kenapa tidak bisa bersabar selama beberapa hari saja.

Kali lain, seorang kawan lainnya juga bercerita mendapat kunjungan dari temannya. Tak biasanya, ia mencium aroma parfum yang begitu kuat, berasal dari teman yang datang. Sambil ngobrol, si teman mengatakan bahwa ia sedang tidak bisa mencium aroma. Mungkin karena itu ia tidak mengetahui berapa banyak parfum yang digunakan, sehingga aromanya begitu hebat.

Jika hanya soal parfum, solusinya adalah jangan pernah andalkan penciuman, tapi hitungan. Berapa kali semprot. Persoalannya adalah pada jalan-jalan mendatangi orang lain dan potensi yang mungkin timbul dan dapat membahayakan orang lain. Itu!

Itu hanya beberapa kisah yang pernah didengar dari dua orang kawan. Di sini, di Banjarbaru. Masih banyak hal sejenis yang pernah didengar. Secara umum, alasan mereka yang keluar saat isoman itu sama, yakni sudah bosan di dalam rumah. Bayangkan jika hukum seperti di Singapura itu diterapkan di Indonesia, apakah kira-kira penjara akan penuh? Wallahu a’lam. Semoga tidak.

Teringat pada suatu hari menelepon kawan, salah seorang dokter spesialis di Banjarmasin. Kepadanya kukatakan…

Setidaknya aku sudah melakukan semua ikhtiar yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dan orang lain. Jika memang ditakdirkan aku mengalaminya, bahkan jika ternyata aku ditakdirkan pergi, Insya Allah aku ikhlas. Berarti waktuku sudah sampai. Tapi sulit sekali bagiku memaafkan diri sendiri, jika ternyata aku menularkan kepada orang lain, dan itu kemudian berakibat fatal.

Hanya saja, yang kawanku itu tidak tahu (yang jika kemudian ia membaca ini maka akan tahu), pada saat mengucapkan kalimat terakhir itu melalui sambungan telepon, aku menangis. Karena sungguh, akan sangat sulit sekali bagiku.

Salam,

Mhd Wahyu NZ

Bagikan:

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir Ke Atas