AHY Partai Demokrat
Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat. (Foto: Disway)

Demokrat, Quo Vadis?

Pasca diketahui bahwa keputusan yang akan menjadi pasangan bakal calon presiden Anies Baswedan adalah Muhaimin Iskandar yang merupakan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah final, kita semua kemudian juga mengetahui bahwa Partai Demokrat menyatakan mencabut dukungan untuk Anies dan keluar dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP).

Kita semua tahu, bahwa pada awalnya KPP yang menjadi pengusung pertama Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden itu terdiri dari Partai NasDem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat. Itu pada awalnya, dan kini sudah tidak lagi seperti itu komposisinya. PKB masuk, Demokrat keluar.

Kita juga pernah tahu, bahwa pada suatu ketika sekira pada Juli 2023, AHY yang Ketua Umum Partai Demokrat juga menyatakan bahwa dirinya tidak akan melepaskan KPP meski bacawapres yang dipilih oleh Anies Baswedan bukan dari bagian koalisi perubahan. “Kami terus membangun rasa saling percaya dan saling menguatkan satu sama lain,” ujarnya lebih kurang ketika itu.

Kita juga bisa tahu, bahwa sekalipun pernah terlontar pernyataan akan tetap solid dan berada dalam satu barisan terhadap sesuatu, namun kemudian suatu saat bisa saja akan tidak seperti itu. Argumentasi yang disampaikan bisa jadi karena ada hal-hal yang tidak lagi sesuai, entah itu kesepakatan awal, entah itu hal lain. Sehingga komitmen soliditas memang tidak bisa lagi dipertahankan.

Kita pun tahu, bahwa sampai dengan saat ini masih terdapat tiga poros utama dalam pencalonan presiden. Anies, Prabowo, dan Ganjar. Secara matematis, ketiganya sudah mencukupi syarat dukungan minimal untuk mengajukan bakal pasangan calon presiden dan wakil presiden. Masuknya partai lain ke dalam barisan yang sudah ada bersifat politis.

Tapi kita belum tahu, akan ke mana Demokrat berlabuh di mana setelah ini semua. Posisi tawar Demokrat sudah tidak sekuat sebelumnya. Meski dalam politik seperti ini semua hal bisa terjadi, sudah pasti semua hal diperhitungkan. Jangan sampai mengambil langkah bunuh diri politik. Terlebih lagi setiap kali massa pemilih akan selalu menjadi semakin cair.

Maka jika ingin tahu, boleh saja kita bertanya. Demokrat, quo vadis?

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas