Mungkin saja seseorang menjadikan media sosial sebagai salah satu tempatnya untuk bersembunyi. Tidak hanya dari orang lain, bahkan mungkin dari dirinya sendiri. (Gambar asli: accountingweb.com)

Dalamnya Kakus Bisa Diterka, Dibalik Status Siapa Sangka

Tidak bisa dipungkiri penggunaan media sosial dengan beragam bentuk dan jenisnya sudah begitu jamak selama beberapa lama ini. Namun sebagaimana peribahasa dadakan: “Dalamnya kakus bisa diterka, dibalik status siapa sangka” tak jarang dijumpai profil seseorang dalam media sosial begitu berbeda dengan kesehariannya. Bahkan jika dipikir-pikir, seolah menjadi dua sosok pribadi yang berbeda. Dissociative identity disorder? Entahlah. Tidak mampu membahas sampai ke sana.

Cobalah susuri kawan-kawan yang ada di jejaring sosial yang kita punya. Bahkan silakan amati dengan cermat apa dan bagaimana yang dikirimkannya (posting) dan bandingkan dengan sosok yang selama ini kita kenal secara pribadi. Bisa jadi pada satu orang atau bahkan lebih kita akan menemukan perbedaan. Misalnya saja, seseorang yang kita kenal selama ini dalam kesehariannya adalah sosok yang pemalu, atau bahkan cenderung menjadi pribadi yang introvert, tapi pada jejaring sosialnya banyak sekali mengirimkan foto-foto selfie yang notabene mengekspose diri. Atau, kalau sehari-hari kita kenal cukup pendiam, tak banyak bunyi, tapi gaduhnya luar biasa kalau di media sosial.

Berhubung tidak mendalami psikologi secara khusus, dan tidak ahli di bidang itu, maka hanya bisa menerka-nerka. Bahwa mungkin saja media sosial menjadi “media penyaluran” bagi seseorang atas hal-hal yang selama ini tidak bisa dikeluarkan dalam kesehariannya. Kalau keadaannya seperti ini, maka bisa jadi akan berdampak positif. Misalnya ada kawan yang sehari-hari lebih banyak diam, tapi produktif sekali menulis status atau berkomentar (tentu saja yang positif dan tidak nyampah), maka bisa diduga bahwa kawan tersebut memang lebih berpotensi dan bagus berkomunikasi secara tertulis dari pada lisan. Karenanya jangan paksakan dia untuk menjadi orator, dorong jadi penulis saja.

Atau ada kawan yang jika ketemu langsung sangat pendiam, tapi kiriman atau komentarnya selalu saja mengundang gelak tawa karena memang kocak. Nah, bisa jadi disarankan saja untuk sekalian menjadi script writer atau penulis naskah pertunjukan komedi, misalnya untuk para stand up comedian. Kalau memang tak bisa, jangan dipaksa untuk tampil pegang mic, nanti jadi kurang maksimal. Cari penyaluran yang paling pas.

Namun, pada antara semuanya, bisa jadi ada yang menyebalkan. Misalkan saja kita tahu persis seseorang itu pada dasarnya tak lebih dari seorang maling. Misal hobinya bolak balik melakukan pencurian atau penggelapan keuangan perusahaan tempatnya bekerja atau sejenisnya, atau bahkan mencuri milik keluarga, kawan, yang pendek kata, brengsek lah… tapi melalui jejaring sosial selalu berbagi kiriman-kiriman bijak bestari, atau memunculkan diri sebagai sosok idealis, atau dengan konyolnya mencitrakan diri sebagai orang yang teraniaya. Pada saat inilah seseorang menjadikan media sosial sebagai salah satu tempatnya untuk bersembunyi. Tidak hanya dari orang lain, bahkan mungkin dari dirinya sendiri. Saking malu pada dirinya sendiri.

Kalau ada yang seperti itu baiknya diapakan?
Oh, biarkan saja. Toh kita sudah tahu bagaimana aslinya. Media sosial tak lebih sebagai topeng saja baginya. Kalau mau dan sanggup melakukan sih dibina saja agar tetap tinggal bijak bestarinya dan sisi buruknya hilang. Cuma ngerinya itu, bagaimana kalau ada orang yang mangkel, terus dibongkarnya habis juga melalui media sosial. Babak belur jadinya. Sudah banyak contoh kejadian ‘kan? Kalau sudah begini, maka namanya bukan dibina, tapi jadinya dibinasakan media sosial. Ngeri…

Pesan moralnya:
Hati-hati dan bijaklah bermedia sosial. Kita mungkin bisa bersembunyi dari orang lain, tapi takkan pernah bisa bersembunyi dari diri sendiri. Semoga kita semua baik-baik saja. Selain berdoa, juga harus diusahakan.

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas