Balap liar yang ditertibkan oleh Polres Kota Banjarbaru (Foto: Polres Kota Banjarbaru)

Apa yang Kalian Cari?

Tidak hanya Ramadhan kali ini, sebelum-sebelumnya juga begitu. Pada malam-malam Ramadhan, selalu ada saja anak-anak muda yang melakukan balapan liar di Kota Banjarbaru. Sudah bolak-balik pula Polres Kota Banjarbaru melakukan razia dan penertiban, masih saja ada yang bebal. Bahkan kali ini, motornya akan ditahan hingga usai lebaran. Demikian kata Polres. Syukurin mungkin kata orang banyak.

Karena memang balapan liar ini sudah begitu menyebalkan. Rasa-rasanya rerata orang Banjarbaru tidak menyukainya. Bahkan ada sinyalemen mayoritas pelaku adalah anak² muda yang berasal dari luar Kota Banjarbaru. Setidaknya, setiap orang yang kutemui seluruhnya tidak suka. 100%. Malam malam biasa saja tidak suka, terlebih lagi malam Ramadhan. Lantas, apa yang sebenarnya dicari oleh anak² muda ini?

Apakah ingin menunjukkan eksistensi diri dan komunitas? Atau sebagai kompensasi, penyaluran atas hal tertentu yang tidak bisa tersalurkan atau terkomunikasikan dengan baik? Atau malah, hanya sekedar melakukan saja, tanpa sadar, tanpa tau dan faham kenapa melakukannya?

Pendekatan hukum sudah dilakukan oleh aparat berwenang. Dan sebaiknya memang terus dilakukan. Terima kasih untuk itu, dan teruslah semangat para penegak hukum dalam melakukannya. Tapi entahlah, apakah pendekatan lain sudah pula dilakukan untuk menganalisis kondisi ini. Psikologi sosialnya mungkin? Atau apa deh yang semacam itu. Pendek kata untuk benar² memahami latar belakangnya.

Karena hampir dapat dipastikan, saat dinasihati setelah kena razia, mereka pasti akan iya iya saja. Pasti mendengarkan apa yang dikatakan. Apakah menurut? Belum tentu. Ada besar kemungkinan ada resistensi dibaliknya. Akhirnya, ya balik lagi, tidak akan betul² faham. Karena masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Mereka lebih suka nasi kuning dari pada nasi-hat.

Khawatirnya, akan banyak orang yang lelah dan gerah melihat kelakukan anak² muda ini. Kalau bolak-balik dikasih tau tidak juga menurut, bisa jadi orang akan bosan untuk kasih tahu. Mulut akan diam, tapi tangan yang bicara. Kalau sudah begini, semua jadi susah, dan berpotensi lebih tidak baik. Jangan sampai ini terjadi. Nggak enak. Percayalah. Sekitar satu dekade lalu, sepotong balok kayu jadi saksi bisu.

geleng-geleng

Salam,

Mhd Wahyu NZ © mwahyunz.id

Tinggalkan Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gulir ke Atas